Belajar dari SBY, Berjuang Bersama AHY



Renanda Bachtar (Wakil Sekretaris Jenderal DPP Partai Demokrat Periode 2020-2025)

Renanda Bachtar besar di lingkungan keluarga politisi. la juga pernah berkiprah selama 26 tahun di industri televisi dan marketing communications. Dalam kapasitasnya sebagai Wakil Sekretaris Jenderal DPP Partai Demokrat dan Koordinator Juru Bicara Partai, ia termasuk tokoh partai yang berdiri paling depan dalam menyampaikan gagasan dan sikap politik Partai Demokrat kepada publik.

Renanda masuk kuliah di Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta tahun 1987. Sejak semester pertama, ia sudah aktif dalam organisasi kemahasiswaan. Ormas Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) adalah organisasi yang dipilihnya. Renanda tercatat pernah menjabat sebagai Bendahara DPP Pengurus Alumni GMNI.

Renanda memang lahir dan besar dalam lingkungan keluarga politisi. Ayahandanya, Bachtar Oscha Chalik, merupakan tokoh pergerakan mahasiswa, pengurus partai di awal Orde Baru serta merupakan pendiri sekaligus Ketua Umum Partai Nasional Indonesia (PNI) Massa Marhaen. Parpol yang sempat eksis pada awal reformasi.

Meskipun begitu, takdir tidak langsung menariknya masuk dunia politik. Mula-mula Renanda merintis karier profesional. la sempat bekerja di Bank Yama, sebelum mendalami dunia pertelevisian Indonesia. Renanda menjadi Account Supervisor di ANTV (1995-1997), kemudian sebagai Brand Communications Manager JAK-TV (2005-2006).

Sejak tahun 1996 Renanda membesarkan perusahannya, PT. Qualita Prima Pariwara, yang bergerak di bidang marketing communications dan event management.


Belajar dari Begawan Demokrasi

Persentuhan Renanda dengan Partai Demokrat merupakan takdir Tuhan. Sejak awal, ia sudah mengagumi sosok Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).
la ingat sekali, ayahandanya yang merupakan politikus kawakan, Bachtar Oscha Chalik, sempat memprediksi SBY suatu saat akan memimpin Indonesia. Ketika itu SBY masih menjabat sebagai Kasospol ABRI. Renanda terus memperhatikan dan mengamati sepak terjang SBY. Mulai dari kiprah SBY sebagai tokoh reformasi, menteri, hingga akhirnya terpilih sebagai Presiden RI ke-6. Meskipun begitu, Renanda masih mengamati dari kejauhan. la belum tertarik untuk terjun ke dalam dunia politik karena masih disibukkan dengan perusahaan yang dirintisnya bersama teman-temannya.

Pada akhirnya, tahun 2010, Renanda berkesempatan membantu pelaksanaan Kongres Partai Demokrat 2010 di Bandung, Jawa Barat. Selepas itu, ia memantapkan niat untuk bergabung dengan Partai Demokrat. Alasannya, kembali karena sosok SBY.


Renanda menilai SBY memecah  kebuntuan dan sikap skeptisme masyarakat terhadap demokrasi pasca-reformasi 1998. Meskipun SBY memiliki latar belakang militer, kepemimpinan SBY jauh lebih demokratis dari pemimpin sipil. 

"Saya merasa pilihan saya tepat. SBY adalah Bapak Demokrasi, seorang  begawan demokrasi yang telah selesai dengan dirinya. SBY adalah orang yang paling taat konstitusi dan tidak pernah mengangkangi konstitusi dan aturan negara. Ia orang mendarmabaktikan dirinya semata-mata bagi kemajuan bangsa dan tidak pernah menyalahgunakan kekuasaan. Saya sangat respek karena sebagaimana kita tahu, sungguh tidak mudah mengontrol syahwat kekuasaan untuk kepentingan diri di saat seorang pemimpin berada di puncak kekuasaan," ungkap salah satu pendiri sekaligus Dewan Pengawas Bintang Muda Indonesia (BMI), organisasi sayap Partai Demokrat.

Selama bergabung dengan Partai Demokrat, Renanda banyak sekali menimba ilmu dari SBY. Dari Presiden RI ke-6 itu, Renanda mengaku mendapat banyak pengajaran tentang bagaimana berpolitik yang baik untuk memperjuangkan kemajuan dan kesejahteraan rakyat.


la menyaksikan bagaimana SBY menjadi bukti nyata bahwa "berjuang bersama dan untuk rakyat" bukan sekadar jargon. Berbekal moral politik, menurut Renanda, SBY selalu mengambil pilihan berjuang bersama rakyat walau harus menghadapi konsekuensi politik yang kurang menguntungkan. Meskipun secara elektoral dalam dua pemilu terakhir Partai Demokrat belum berhasil mengulang kejayaan Pemilu 2009, tapi SBY dan Partai Demokrat tetap istikamah untuk tidak mengkhianati harapan rakyat.


AHY, Sosok Solidarity Maker

Kedekatan Renanda dengan Ketua Umum DPP Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) berawal saat Pilkada DKI Jakarta tahun 2017.

Pada tahun 2016, Renanda membentuk relawan BAJRA (Banteng Jakarta Raya) for AGUS-SILVY. Sebuah organisasi relawan untuk mendukung pemenangan AHY menjadi Calon Gubernur DKI Jakarta.

Menurut Renanda, AHY yang baru saja pensiun dini dari TNI merupakan sosok pembelajar yang sangat cerdas. AHY seorang "fast learner", ' ujar Renanda.


AHY juga adaptif dengan habitatnya yang relatif baru. Dari seorang perwira militer menjadi seorang pemimpin partai politik. Tak heran, para kader sangat yakin bahwa AHY sangat mampu memimpin Partai Demokrat menjadi semakin besar dan semakin dipercaya rakyat.

Harapan itu dijawab AHY dengan kerja keras. Terbukti, dalam kurun 2 tahun kepemimpinan AHY, dengan pemikiran dan langkah-langkah strategis, perencanaan kerja, dan progam-program konkret, Partai Demokrat sejak akhir 2022 hingga awal 2023 menduduki posisi partai ke-3 terbesar di Indonesia.

Di bawah kepemimpinan AHY, Partai Demokrat mengambil bagian aktif dan melakukan kerja-kerja konkret membantu rakyat. Di bawah kepemimpinannya, Partai Demokrat selalu hadir di tengah-tengah rakyat sejak covid-19 merebak, terdampak bencana alam, maupun memperjuangkan kepentingan rakyat di parlemen, sekalipun kerap menghadapi tantangan yang tidak mudah karena sikap kritisnya terhadap pemerintah.

Penolakan Partai Demokrat atas UU Minerba, UU Haluan Idelogi Negara, dan UU Cipta Kerja yang tidak selaras dengan aspirasi rakyat mendapat apresiasi publik yang luas.

"Salah satu bukti kesuksesan dari kepemimpinan Ketum AHY adalah pencapaian kemenangan 48,2% di Pilkada tahun 2020 serta elektabilitas, baik AHY sebagai Capres maupun Partai Demokrat, yang trend-nya terus naik secara mengesankan dari waktu ke waktu," tegas Renanda.

Kematangan AHY dalam dunia politik, menurut Renanda, tak bisa dilepaskan dari disiplin ilmu militer yang sangat dikuasainya selama 16 tahun, memetik hikmah dari kekalahannya di kontestasi politik DKI serta tentu saja kesamaan DNA-nya dengan sang ayah, Susilo Bambang Yudhoyono.

Renanda menjelaskan, ada kesamaan antara SBY dan AHY dalam membaca situasi politik, baik di dalam maupun luar negeri. SBY dan AHY sama-sama sosok yang gemar melahap informasi agar memperkaya wawasannya. Sehingga tak heran pemahaman AHY  yang tengah menyelesaikan program doktoralnya ini, terkait geopolitik, geostrategi, ekonomi mikro dan makro menjadi sangat tajam, runut, dan komprehensif.


Jalan Para Demokrat

Renanda termasuk politikus yang menolak politik identitas yang berlebih-lebihan. Sikap politik ini ditimba dari pengajaran SBY dan selaras dengan garis ideologi Partai Demokrat yang mengusung Nasionalis-Religius.

Ketika AHY menerima kemudi bahtera Partai Demokrat, ketegasan ini makin menguat. Sebagai sosok yang selama 16 tahun mengabdi di dunia kemiliteran, menurut Renanda, AHY memegang teguh sumpah setia kepada bangsa dan negara. Sumpah setia ini pun diterapkan AHY ketika menakhodai Partai Demokrat yang semakin lama semakin berkembang menjadi partai yang modern dan profesional.

AHY memang terus berikhtiar menggelorakan semangat di dada para pengurus dan kader untuk bekerja keras membesarkan Partai Demokrat. Namun, AHY tegas menolak apabila kejayaan Partai Demokrat harus tegak di atas puing-puing pembelahan bangsa akibat polarisasi politik.

"Saya menyebut Mas AHY ini sebagai" A Solidarity Maker". Dia gandrung persatuan. Dia sedih jika bangsa ini terpecah, tercabik dan terbelah karena kepentingan politik," ungkap Renanda.


Renanda mengaku bangga dengan sikap politik yang dimajukan AHY. la pun meyakini para kader memiliki kebanggaan serupa dengan dirinya. Pasalnya, sikap politik menolak mengambil keuntungan elektoral di atas kehancuran persatuan bangsa terbilang langka di kancah politik kekinian yang makin pragmatis dan lebih memikirkan kepentingan organisasi di atas kepentingan rakyat.

"Sikap ini bukan berarti tidak memiliki konsekuensi politik. Akan tetapi, ada moral politik yang harus dibangun. Bagaimana membuat bangsa ini rukun. Karena, kematangan berdemokrasi tidak boleh hanya dilihat dari ukuran menang kalah," tegas Renanda.

Dipercaya sebagai Wasekjen Partai Demokrat sejak 2017 hingga kini, Renanda mengajak seluruh kader untuk satu nafas mengkonsolidasikan gerak mesin partai.


"Inilah saat yang tepat bagi seluruh kader di Indonesia untuk mengkonsolidasikan diri mendukung calon pemimpin nasional yang belum tentu lahir 50 tahun sekali, serta menyatukan langkah untuk patuh pada instruksi dan program-program nyata yang dibuat oleh Ketum AHY, agar ketika Allah, Tuhan YME berkenan membuka jalan bagi AHY untuk memimpin dan meneruskan pencapaian SBY yang sangat baik dalam kurun waktu 2004 - 2014, AHY dan Partai Demokrat telah mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya," pungkas Renanda.***

(Disunting dari Demokrat Newsletter terbitan DPP Partai Demokrat)

Postingan populer dari blog ini

Dr. H. Nanang Samodra, Anggota DPR-RI 4 Periode yang Tenang dan Penuh Data

Kepala BHPP DPP Partai Demokrat Dr. Muhajir: Kami Wajib Memiliki Loyalitas Tanpa Batas

Dormauli Silalahi: Demokrat seperti Rumah Saya