Andi Arief Menjalani Transplantasi Hati dan Berbagi Kisah
Andi Arief terus berbagi kisah tentang bahayanya sirosis usai menjalani transplantasi hati di India, 21 Oktober tahun lalu. Komisaris PLN yang juga kader utama Partai Demokrat tersebut rutin mengisahkan apa yang ia alami pada publik, lewat media sosial atau menjadi narasumber beragam forum.
Semuanya bermula di Januari 2023. Andi Arief, tanpa gejala apa pun, pingsan (blackout) mendadak. Ia tidak sadar selama 18 jam.
Diagnosis awal menduga Andi Arief terkena serangan stroke.
Beberapa hari kemudian, dr. Irsan Hasan, Sp.PD-KGEH, ahli penyakit hati, memastikan Andi Arief terserang sirosis (kerusakan hati kronis mengarah ke gagal hati).
Irsan Hasan menjelaskan, banyak hal yang bisa menyebabkan sirosis. Tapi tiga hal utama adalah mengonsumsi alkohol, fatty liver (perlemakan hati), serta mengidap Hepatitis C.
Ada 514 fungsi di hati. Jika hati rusak, jaringannya pasti rusak sehingga seluruh organ tubuh kita akan rusak atau malah tidak berfungsi sama sekali.
Dalam kasus Andi Arief, ia terkena sirosis lantaran menderita Hepatitis C tanpa menyadarinya.
Andi Arief tentu kaget. Sebagai sosok yang sangat memperhatikan kesehatan, Andi Arief kerap memeriksakan diri di berbagai laboratorium, untuk memastikan tubuhnya baik-baik saja. Kelalaian Andi Arief adalah tidak pernah memeriksakan diri ke laboratorium untuk mengetahui apakah ia menderita Hepatitis C atau tidak.
Bahayanya lagi, Hepatitis C yang menyerang Andi Arief tidak menimbulkan gejala apa pun.
Andi Arief tidak merasa ada yang aneh dengan hatinya. Tidak merasakan keluhan apa pun pada organ tubuhnya. Tidak ada tanda apa pun yang membuatnya berpikir tengah terserang Hepatitis C. Tetapi, faktanya, Andi Arief menderita Hepatitis C. Infeksi virus yang membuatnya divonis menderita sirosis.
Hal paling mengagetkan Andi Arief, saat Irsan Hasan berkata, kalau sudah terkena sirosis kronis maka satu-satunya jalan untuk kembali pulih sepenuhnya adalah melakukan transplantasi hati. Jika tidak dilakukan, maka hidup kita akan berakhir.
Andi Arief tidak menyerah. Ia mencari second opinion dokter (pendapat medis dari dokter lain). Setelah beberapa waktu, Andi Arief memutuskan berobat ke National University Hospital (NUH), Singapura untuk menyelamatkan hatinya tanpa harus menjalankan tranplantasi.
Nyaris setahun Andi Arief berobat ke Singapura untuk menyembuhkan diri tanpa harus menjalani transplantasi hati. Awalnya ada kemajuan berarti bagi penyembuhan sirosis Andi Arief. Tetapi kondisi hatinya kemudian memburuk. Puncaknya para dokter di NUH memutuskan Andi Arief harus menjalani transplantasi hati untuk menyelamatkan nyawanya.
Andi Arief pun pasrah.
Pada 7 Mei 2024 di laman X-nya, Andi Arief menulis "Tidak semua hal dalam hidup ini bisa kita kontrol dan raih, pada akhirnya kita harus menerima kenyataan".
Ia kemudian menambahkan catatan "Mohon doa, agar segera dapat pendonor hati".
Tulisan Andi Arief adalah perwujudan tekadnya untuk segera melakukan transplantasi hati di NUH.
Masalahnya, siapa pendonornya? Siapa orang yang rela menyerahkan 60an persen hatinya untuk Andi Arief?
Jikapun ada yang rela, syarat menjadi pendonor hati hidup tidak gampang. Pendonor harus memiliki golongan darah sama dengan penerima dan lolos serangkaian evaluasi medis, termasuk pemeriksaan fisik dan psikologis yang ketat.
Keajaiban itu ternyata datang.
Pada 15 September 2024, di laman facebooknya, Andi Arief berfoto dengan putra pertamanya, Fazle Merah Maula. Ia menulis singkat "Hatimu akan ada untukku".
Pendonor hati hidup yang rela menyerahkan hatinya untuk Andi Arief adalah putra pertamanya.
Masalahnya, apakah Fazle Merah Maula lolos serangkaian evaluasi medis ketat yang dipersyaratkan NUH?
Pada 27 September 2024, di laman facebooknya, Andi Arief menulis cukup panjang tentang kisah hidupnya yang bagai sebuah novel:
"Hari ini, 27 September. Istri tercinta Deviyanti ulang tahun. Saya, istri dan anak tertua saya Fazle Merah Maula sedang santap siang selesai sholat Jumat. Ada nasi padang dan kue ulang tahun kiriman sahabat. Rencananya sore ini anak saya akan kembali ke Bandung karena kuliah di ITB semester 3 jurusan Oseonografi fakultas kebumian.
Seperti cerita sinetron, tiba-tiba HP anak saya berdering, pihak Rumah Sakit NUH Singapura mengabarkan bahwa hasil medis dan dewan Komite etik memutuskan bahwa dia akan jadi pendonor hati untuk ayahnya.
Saya terdiam, istri saya menangis tegar. Wajar jika istri saya menangis karena dia akan menyaksikan dua orang yang dicintainya bersama-sama berjuang di rumah sakit yang sama.
Anak tertua saya tegas menyatakan tak ada keraguan untuk menjadi pendonor buat ayahnya. Dan, saya bersama istri tak bisa melarang niatnya untuk menjalankan misi cinta dan kemanusiaan.
Kami ikhlas dan menyerahkan diri pada kesimpulan medis dan jalannya hidup yang sudah diatur Yang Maha Kuasa.
Mohon doa, mudah-mudahan semua lancar pada waktunya yang tidak terlalu lama lagi".
Tetapi kisah masih berlanjut.
Awal Oktober 2024, kondisi Andi Arief sangat memburuk. Transplantasi hati harus segera dilakukan untuk menyelamatkannya.
Sayangnya, NUH menjadwalkan transplantasi hati untuk Andi Arief baru bisa dilakukan pada 21 November 2024. NUH tidak bisa memajukan jadwal operasi.
Andi Arief harus mencari rumah sakit lain yang bisa segera melakukan transplantasi hati.
Pada 4 Oktober 2024, saat Andi Arief dirawat di RS MMC, Kuningan, Jakarta, istrinya (Deviyanti) setengah memaksa dokter Irsan Hasan mencari kolega di rumah sakit lain.
Saat itulah Irsan Hasan memberi tahu Deviyanti agar menemui seorang ibu rumah tangga bernama Ribkah Darmawanti.
Ribkah adalah sukarelawan kesehatan bagi pasien yang harus operasi transplantasi hati. Ribkah menjadi sukarelawan karena suami tercintanya wafat lantaran ketiadaan donor saat suaminya harus melakukan transplantasi hati.
Setelah bertemu Ribkah dan Gaurav Malhotra (warga negara India, perwakilan Apollo Hospital New Delhi India) maka Andi Arief melakukan zoom meeting bersama Neerav Goyal (kepala tim ahli dokter senior dari Apollo Hospital New Delhi India).
Usai zoom meeting dan memahami segala sesuatunya, pada 10 Oktober 2024, Andi Arief bersama keluarga dan beberapa kawannya berangkat ke India.
"Apa yang sudah direncanakan belum tentu pelaksanaannya bisa mulus begitu saja. Tapi tanpa perencanaan, tidak mungkin saya bisa operasi cepat di India," Andi Arief menulis di laman facebooknya.
Setiba di India, Andi Arief langsung menuju Rumah Sakit Apollo. Ia dan Fazle Merah Maula menjalani proses pemeriksaan selama seminggu. Setelahnya mereka menjalani persiapan operasi selama tiga hari.
Cepatnya proses Andi Arief dan Fazle menuju meja operasi juga karena dukungan data medis dari RS MMC dan NUH Singapura yang secara sains bisa dipertanggungjawabkan.
Dukungan dan doa tentu terus mengalir untuk Andi Arief dan Fazle Merah Maula. Selain Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) beserta Annisa Pohan langsung menghubungi Andi Arief via video call pada 14 Oktober 2024. Banyak lagi dukungan dari seluruh penjuru tanah air untuk kesembuhan Andi Arief dan putranya. Dukungan yang menambah semangat Andi Arief untuk tetap hidup.
Tanggal 21 Oktober 2024, pukul 07.30, Andi Arief dan putra pertamanya, Fazle Merah Maula menjalani operasi transplantasi hati selama 18 jam.
Dalam operasi yang berlangsung sukses tersebut, Fazle Merah Maula memberikan 62 persen hatinya untuk menyelamatkan kehidupan ayahnya.
Tiga hari setelah operasi (24 Oktober 2024), Andi Arief telah bisa berkomunikasi dengan istri dan Fazle, putranya, melalui video call.
Pada 2 November 2024, Andi Arief telah diperbolehkan keluar dari ruang ICU untuk bertemu dengan istri tercintanya dan dua sahabat dekatnya.
Saat itulah Andi Arief merasa hidup kembali.
Fazle Merah Maula jauh lebih cepat pulih. Pada 3 Desember 2024, Andi Arief menulis untuk Fazle di laman facebooknya "Lanjutkan perjalanan yang masih panjang". Sebuah kalimat bahwa Fazle telah pulih dan siap pulang ke tanah air.
Andi Arief, pasca-keluar dari ruang ICU, masih dirawat dua bulan lebih di ruang perawatan biasa. Setelahnya, barulah Andi Arief diperbolehkan pulang ke tanah air.
23 Januari 2025, Andi Arief telah merasa cukup kuat untuk kembali melaksanakan tugas-tugasnya sebagai Komisaris PLN.
10 Februari 2025, Andi Arief secara terbuka berbagi tentang pengalamannya menderita sirosis dan menjadi penyintas transplantasi hati. Kisahnya sejak divonis menderita sirosis hingga menjalani perawatan pasca-transplantasi hati disajikan secara rutin di akun pribadinya di facebook, X, dan TikTok.
Tak cuma itu, pada 25 Maret 2025, Andi Arief berbagi cerita tentang transplantasi hati kepada masyarakat dan paramedis di Rumah Sakit Mayapada, Jalan Lebak Bulus I, Cilandak, Jakarta.
Andi Arief menjadi pembicara terkait Mayapada Group yang akan bekerjasama dengan RS Apollo, New Delhi India, antara lain untuk penanganan transplantasi hati.
Di hadapan para dokter yang hadir di forum "Meet The Expert: Pediatric, Gastroenterology and Hepatology", Andi Arief menyampaikan testimoni tentang perjalanan sirosis hingga transplantasi hati yang dialaminya.
Forum itu diselenggarakan RS Mayapada Indonesia dan RS Apollo India. Selain Andi Arief, hadir Profesor Anupam Sibal, Chief Medical Director Apollo Hospitals Group, India, Duta Besar India buat Indonesia Sandeep Chakravorty dan jajaran pimpinan serta para ahli Pediatric, Gastroenterology dan Hepatology.
Hingga saat ini, Andi Arief terus berbagi tentang perjalanannya sebagai penyintas transplantasi hati.
"Setelah operasi transplantasi hati, saya memang berniat berbagi pengalaman kepada masyarakat tentang sirosis dan transplantasi hati," ujar Andi Arief.
Pengalaman yang disampaikan semata-mata agar masyarakat memahami dampak sirosis dan apa yang harus dilakukan jika harus menjalani transplantasi hati.
Pengalaman yang penting bagi kita karena data menunjukkan tahun 2000 hingga 2016 saja, tercatat 26,9 juta kasus sirosis di Indonesia.
Teruslah berbagi kisah dan pengalaman, Mas Andi Arief.***
(Didik L. Pambudi)
